Nama Tukul Arwana tak pelak lagi melambung berkat talk show Empat Mata yang ditayangkan Trans 7 (dulu TV 7) sejak Mei 2006. Namun bukan berarti tayangan ini langsung memikat hati pemirsa sedemikian besar seperti sekarang. Membutuhkan waktu satu tahun lebih sebelum akhirnya Empat Mata benar-benar meroket. Tentu saja bukan lantaran Tukul, tayangan ini begitu diminati saat ini. Ada tim kreatif yang menjadi penopang keberhasilan acara itu.
SALAH satu anggota tim kreatif yang sering disebut namanya oleh Tukul adalah Thia. Setiap kali membaca pertanyaan di layar laptopnya, Tukul memang kerap memanggil nama Thia dengan nada yang teramat khas. Thia kadang sengaja memelesetkan pertanyaan sehingga membuat Tukul kelabakan.
”Thia saya ini sudah bodoh, jangan dibikin tambah kelihatan bodoh. Ini maksudnya apa sih. Thia……,” teriak Tukul sesaat memelototi peralatan canggih yang ada di depannya. Karuan saja gaya Tukul itu menimbulkan gerr penonton.
”Saya memang kadang sengaja membuat ribet supaya muncul spontanitas. Ternyata itu berhasil memancing tawa penonton,” kata Mardhatillah, nama lengkap Thia, gadis 23 tahun yang berada di balik keberhasilan tayangan Empat Mata.
Tentu saja Thia tidak sendiri, ada Andri Loenggana (produser), Hidayatullah (asisten produser), Kiki dan Devi (kreatif), Dita dan Doni (production assistant) serta Widi (talent).
Bersama tim kreatif yang lain, Thia memang menjadi penentu bagaimana acara itu akhirnya bisa digemari penonton. ”Di awal tayang, acara ini memang mencari segmen pria dewasa, sehingga memang dibuat sengaja agak-agak ‘menjurus’. Tetapi memasuki bulan Ramadhan 2006, kami sedikit mengubah tema acaranya menjadi acara untuk seluruh keluarga. Ternyata ramuan ini berhasil. Resepnya kami pertahankan sampai sekarang,” tutur Thia saat ditemui menjelang syuting Empat Mata di bilangan Pancoran, Jakarta, Selatan.
Kritik
Ketika baru ditayangkan, sejumlah kritik bahkan caci maki melayang ke acara itu. Tukul disebut sebagai katro dan tak pantas membawakan acara tersebut. Bintang tamu pun ogah datang mengisi acara dan mempertanyakan kapabilitas pelawak itu sebagai pembawa acara. Belum lagi penonton yang susah dicari.
Kondisi ini membuat tim Empat Mata memutar otak. ”Kami lalu berembug lagi. Hasilnya kami sepakat mendandani Mas Tukul seelegan mungkin, supaya bisa diterima semua kalangan. Set diubah sehingga warna-warnanya menjadi lebih berkelas. Ditambah perubahan segmen dari pria menjadi segmen keluarga, ternyata semua itu manjur,” kata Thia senang.
Bersamaan dengan itu, Thia meminta Tukul agar sekalian mengundang bintang tamu untuk Empat Mata saat sedang off air. Saran Thia itu dilaksanakan oleh Tukul. Ia giat mengampanyekan Empat Mata kemana pun pergi. Bahu-membahu antara Tukul dan tim kreatif berbuah manis. Tayangan itu melejit bak roket dan kini menjadi tayangan favorit keluarga.
Sejak awal, Tukul menyadari, banyak kekurangan. Karena itu, dia meminta dibantu oleh tim kreatif. ”Saat menerima tawaran ini saya ajukan syarat, saya dibantu tim kreatif. Saya ini pelawak, bukan host seperti Farhan atau Indy Barends,” ujar Tukul. Karena itu pula, tidak ada alasan tidak mendengarkan masukan dari tim kreatifnya sendiri.
Tukul dan tim kreatif selalu menemukan materi-materi baru. ”Tugas kami sebagai tim kreatif harus jeli menangkap ide-ide liar yang terlontar dari Mas Tukul maupun dari bintang tamu,” papar Thia.
Hal-hal tak terduga kerap juga terjadi selama show berlanggung. Misalnya saat tiba-tiba laptop Tukul mati. Hadi harus membetulkannya. Tiba-tiba saja timbul ide menjadikan Hadi sebagai Hadi Potter.
”Itu membuat kami harus bisa mencari cara memecah kebuntuan. Menambah wawasan agar guyonan tidak garing,” tambah Thia. Hal-hal seperti ini yang dilakukan oleh tim kreatif di balik layar. Mereka harus selalu siap dalam keadaan apa pun.
Perbendaharaan lawakan pun semakin beragam. Misalnya, wangsul malih wonten laptop (bahasa Jawa), atau balik duei ka laptop (bahasa Sunda). Ini menunjukkan, mereka tidak mau terpatok pada satu lawakan saja.
”Mas Tukul selalu menghubungi saya lewat SMS bila mendapat joke-joke baru. Untungnya ia banyak off air di luar. Jadi banyak masukan yang dia dapat,” ujar Thia.
Sebaliknya, Tukul selalu diberi masukan informasi-informasi terkini oleh tim kreatif, sehingga isu-isu yang Tukul angkat selalu up to date.
”Untuk pertanyaan, memang ia tinggal membaca saja. Tetapi dia bisa mengembangkannya dari situ. Dia orangnya spontan,” kata Thia.
Satu hal lagi, setiap kali menuliskan pertanyaan di laptop yang membutuhkan kata dalam bahasa Inggris, Thia selalu menuliskannya dalam ejaan sesuai bacaan. Misalnya last night, dituliskan las nait.
”Soalnya kalau nggak gitu nanti dibaca apa adanya. Karena seringkali kesulitan, Mas Tukul sempat mau kursus bahasa Inggris, tapi saya larang. Kalau dia sudah pandai berbahasa Inggris nanti jadi nggak lucu lagi,” katanya.
Bersama Kiki dan Devi tugas Thia adalah menetapkan isi program acara. Ia harus menentukan konsep/tema, rundown (susunan acara) dan talent (pengisi acara). Selama syuting berlangsung Thia mengontrol jalannya acara agar sesuai dengan rundown dan script (naskah) yang telah dibuat. Thia juga membantu Tukul mengajukan pertanyaan menggunakan laptop.(Tresnawati-41)
suaramerdeka